TRADISI KEAGAMAAN NU

Kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan tradisi (budaya). Itu karena budaya adalah kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya. Karena itu, salah satu karakter dasar dari setiap budaya adalah perubahan yang terus menerus sebagaimana kehidupan itu sendiri. Dan karena diciptakan oleh manusia, maka budaya juga bersifat beragam sebagaimana keragaman manusia.

Menghadapi budaya atau tradisi, ajaran aswaja NU mengaku kepada salah satu kaidah fiqh, al-muhafadzah ala al-qadim alshalih wa al akhdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik). Jadi yang dilihat bukan tradisi atau budayanya secara lahiriyah, tapi nilai yang dikandungnya. Kaidah ini menuntun untuk memperlakukan fenomena kehidupan secara seimbang dan proporsional. Seseorang harus bisa mengapresiasi hasil-hasil kebaikan yang dibuat orang-orang terdahulu (tradisi yang ada), dan bersikap kreatif mencari berbagai terobosan baru untuk menyempurnakan tradisi tersebut atau mencipta tradisi baru yang lebih baik. Sikap seperti ini memacu untuk tetap bergerak ke depan dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.

Dalam menyikapi tradisi setempat, para ulama NU di ilhami oleh sikap nabi Muhammad SAW sebagai panutannya. Satu misal, ibadah Haji yang sudah dilakukan oleh umat sebelum beliau. Kegiatan ini tidak dihilangkan begitu saja, tapi di isi/diganti dengan ruh tauhid dan dibersihkan dari kotoran syirik seperti diketahui sebelumnya Ka’bah di isi dengan berhala oleh orang Quraisy. Sikap inilah yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan parapengikutnya, termasuk wali songo, yang disebut dengan kaum sunni atau ahlus sunnah wal jamaah. Banyak tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia dipertahankan oleh NU dengan mendasarkan pada dalil-dalil yang kuat diantaranya :

Tahlilan dan Ratiban (istighatsah)

Tahlilan adalah kegiatan dzikir yang dilakukan oleh sekelompok orang/sendirian yang memuat berbagai dzikir yang masyru’ berupa bacaan tahlil, shalawat, istighfar, bacaan al-Qur’an dan tasbih serta dzikir-dzikir lainnya dengan tujuan untuk mengirimkan pahala bacaan tersebut kepada orang yang telah meninggal dunia.

Ratiban adalah kegiatan dzikir yang dilakukan oleh sekelompok orang/sendirian yang memuat berbagai dzikir yang masyru’ berupa bacaan tahlil, shalawat, istighfar, bacaan al Qur’an dan tasbih serta dzikir-dzikir lainnya dengan tujuan untuk memohon terkabulnya hajat dunia/akhirat yang disusun oleh para ulama/habaib seperti Ratib al-Haddad, Ratib al-Atthash, Ratib al-Sakran, Ratib Syams Syumusy dll.

Manakiban dan Tawassul

Manakiban adalah kegiatan pembacaan biografi/sejarah ulama dilanjutkan dengan dzikir yang dilakukan oleh sekelompok orang/sendirian yang memuat berbagai dzikir yang masyru’ seperti manakib syeikh Abdul Qadir al-Jailani, manakib syeikh Bahauddin an-Naqsyabandi dll dengan tujuan meneladani dan mengharap barakah dari Allah dengan perantara karomahnya.

Tawassul adalah kegiatan dzikir yang dilakukan oleh sekelompok orang/sendirian dengan memohon perantara dengan para wali, ulama dan orang sholeh baik yang masih hidup maupun telah meninggal dunia. 

Mauludan dan Barzanjinan

Mauludan adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca sejarah beliau dalam kitab al-Barzanji, Maulid Diba’, maulid al-Azab, Simtud Duror, Burdah, Dhiya’ul Lami’ dll.memperbanyak bacaan shalawat dan pujian pada hari kelahiran beliau yang diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Barzanjinan adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca sejarah beliau, dalam kitab al-Barzanji, memperbanyak bacaan shalawat dan pujian secara mingguan yang biasanya dilakukan pada malam Senin, atau Jum’at, atau malam yang lain.


Komentar

Posting Komentar